Sabtu, 16 Februari 2013

Mata Bintitan Tips dan Obatnya

Mata Bintitan / stye/ hordeolum adalah infeksi pada folikel mata atau kelenjar lemak di dasar bulu mata yang disebabkan oleh kuman staphylococcus yang terbawa bersama debu dan menyangkut di bulu mata. Ciri khas penyakit ini adalah munculnya inflamasi/ bengkak kemerahan seperti bisul pada tepi kelopak mata. Bintitan juga dapat disebabkan oleh metabolisme lemak. Mengkonsumsi telur atau susu yang terlalu banyak pada anak-anak dapat menyebabkan metabolisme lemak yang tidak benar yang akhirnya dapat menyebabkan bintitan

Di dalam kelopak mata terdapat 30-40 kelenjar lemak, sehingga bisa saja seseorang terkena bintitan berulang kali tetapi terjadi pada kelenjar lemak yang berbeda. Bila hal ini yang terjadi penyakit ini tidaklah berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya setelah 1 minggu. Akan tetapi bila bintitan terjadi berulang kali pada satu kelenjar yang sama, hal ini harus di waspadai karena bisa menyebabkan keganasan atau kanker pada orang yang sudah lanjut usia.
Bintitan atau dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum bukanlah disebabkan karena kebiasaan mengintip seperti yang sering disebut-sebut dalam mitos. Benjolan kecil pada pinggir kelopak mata ini kerap disertai rasa gatal dan nyeri, yang kemudian dapat bertambah besar layaknya bisul. Penyebabnya adalah peradangan muara kelenjar pada lapisan kelopak mata atas maupun bawah dimana terdapat produksi cairan yang berguna untuk fungsi air mata dan keringat. Apabila muara kelenjar itu tersumbat oleh kotoran seperti debu, make-up, dan lainnya; maka timbulah bintitan. Peradangan ini bisa terjadi tanpa atau dengan adanya infeksi bakteri. Penanganan pertama pada bintitan adalah dengan memberikan kompres hangat sambil memijit bagian kelopak yang mengalami bintitan. Kompres hangat akan melunakkan sumbatan yang mengeras sehingga mempercepat penyembuhan. Cara ini cukup efektif dan umumnya bintitan akan membaik dengan sendirinya. Penanganan lainnya adalah dengan antibiotik oleh dokter. Apabila bintitan 'membandel' dan tetap tidak mengempis, dokter bisa merekomendasikan insisi atau pembedahan untuk mengeluarkan penyumbatannya.

Source: http://www.optikmelawai.com/eye_info/penyebab-dan-penanggulangan-bintitan/244/
Bintitan atau dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum bukanlah disebabkan karena kebiasaan mengintip seperti yang sering disebut-sebut dalam mitos. Benjolan kecil pada pinggir kelopak mata ini kerap disertai rasa gatal dan nyeri, yang kemudian dapat bertambah besar layaknya bisul. Penyebabnya adalah peradangan muara kelenjar pada lapisan kelopak mata atas maupun bawah dimana terdapat produksi cairan yang berguna untuk fungsi air mata dan keringat. Apabila muara kelenjar itu tersumbat oleh kotoran seperti debu, make-up, dan lainnya; maka timbulah bintitan. Peradangan ini bisa terjadi tanpa atau dengan adanya infeksi bakteri. Penanganan pertama pada bintitan adalah dengan memberikan kompres hangat sambil memijit bagian kelopak yang mengalami bintitan. Kompres hangat akan melunakkan sumbatan yang mengeras sehingga mempercepat penyembuhan. Cara ini cukup efektif dan umumnya bintitan akan membaik dengan sendirinya. Penanganan lainnya adalah dengan antibiotik oleh dokter. Apabila bintitan 'membandel' dan tetap tidak mengempis, dokter bisa merekomendasikan insisi atau pembedahan untuk mengeluarkan penyumbatannya.

Source: http://www.optikmelawai.com/eye_info/penyebab-dan-penanggulangan-bintitan/244/
Bintitan atau dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum bukanlah disebabkan karena kebiasaan mengintip seperti yang sering disebut-sebut dalam mitos. Benjolan kecil pada pinggir kelopak mata ini kerap disertai rasa gatal dan nyeri, yang kemudian dapat bertambah besar layaknya bisul. Penyebabnya adalah peradangan muara kelenjar pada lapisan kelopak mata atas maupun bawah dimana terdapat produksi cairan yang berguna untuk fungsi air mata dan keringat. Apabila muara kelenjar itu tersumbat oleh kotoran seperti debu, make-up, dan lainnya; maka timbulah bintitan. Peradangan ini bisa terjadi tanpa atau dengan adanya infeksi bakteri.